1001 alasan orang buat traveling
1001
alasan orang buat traveling
Sebenernya
judul ini agak sediikit berlebihan tapi ya sudahlah, kita lanjutkan saja. Oke,
readers Ada 1001 alasan (lebay banget
sumpah aja!) orang memutuskan mengisi harinya untuk traveling. Ada yang beralasan
tuntutan kerja, hobi, mencari pengalaman, belanja, bahkan ada yang beralasan
untuk mengisi waktu luang atau sekedar menyegarkan pikirannya yang butek. Motif-motif
itu tentu aja kembali lagi pada diri traverlernya masing-masing. Hellow, emangnya
siapa lo, siapa gue nentu-nentuin motif mbak agnes monika ke Amerika atau dek
Justine Beiber ke Indonesia atau bahkan pak Jokowi buat ke Bagdad?!
Hmm…
menurut gue nih, umumnya motif travelers bisa menjadi tiga macem; urusan kerjaan,
urusan belanjaan, dan urusan pengalaman. (ini terserah mau ditambah dikurang,
dikali dibagi juga terserah kalian deh). kita bahasa satu-satu, yuk!
yang
pertama urusan pekerjaan, gak bisa dipungkiri lagi perjalanan dengan motif ini
boleh jadi biaya penginapan, angkutan
dan konsumsi ditanggung oleh kantor atau tempat di mana kita bekerja. hufftt iri banget gak sih, enak banget kan apa-apa
dibayarin! Eits, tapi jangan salah dulu; biaya boleh jadi ditanggung, tapi sempitnya waktu dan
banyaknya memakan pikiran bisa jadi menganggu acara traveling lu! siapa yang
bisa menikmati indahnya deruan ombak di pantai Anguilla di pantai Timur puerto Rico jika baru saja ditolak clien yang sebelumnya ia harap-harapkan?
atau siapa yang bisa di Palermo di Italia menikmati sedapnya rasa Vampaciucia c'Anciova(jangan tanyakan gua gimana bacanya) kalo
pikiran sedang stress?
well,
kita lupakan sejenak motif traveler karena urusan kerjaan. Sekarang kita
berlanjut pada motif urusan belanjaan (denger kata belanjaan jadi inget ibu-ibu
rumpi, deh!). Hey, ibu-ibu mana yang tidak ngiler atau berbinar-binar matanya
ketika mendengar harga great sale untuk beberapa potongan pakaian bermerek, walau itu harus berkorban nyebrang
negara ke singapura! atau bisa jadi bagi pelaku motif ini, banyak yang rela
menghabiskan uangnya contohnya saja buat membeli guci china yang mahal atau
rela jauh-jauh ke afrika buat membeli intan yang muahaaal!! (please, bisa
bayangin gak kalo guci itu kegencet terus pecah atau bagi yang punya anak
karena anaknya super-duper-hyper active akhirnya guci itu berakhir dengan
senggolan maut dan berujung pecah, belum lagi intan yang mahalnya selangit itu,
gimana kalo kecopetan, kejambretan, dipalak, dicuri, digilas ah udahlah cukup
ngehayalnya). Enough!
Mari
kita tinggalkan sebentar motif traveler tukang belanja ini. Kita mulai
mendekati travelers dengan motif urusan pengalaman. Ngomongin masalah pengalaman jadi inget buku
sidu jaman gw sd sebenernya yang dibawahnya ada tulisan : experience is the
best teacher. wow! emang bener banget sih kata-kata itu. soalnya (maaf-maaf aja
ya buat yang udah tua nih :D) berhubung penulisnya masih muda dan merasa selalu
muda. Pengalaman merupakan hal termahal yang bisa jadi lebih berharga dari
uang! (jangan protes dulu!) Karena alasan pengalaman kita dapat merasakan
dinginnya bromo tanpa penginapan, dinginnya laut selat sunda pada pukul 3 dini
hari, betapa indahnya sunrise di atas pegunungan Dieng dan banyak lagi
pengalaman-pengalaman yang gak ternilai harganya.
jadi
ingat film titanic, ada potongan scene yang masih saya ingat ketika Rose (sudah
nenek-nenek) menceritakan kisah cinta dan titanic-nya lalu salah satu peneliti
titanic memotong dengan berkata; (kira-kira seperti ini terjemahannya).
"kami
tidak pernah menemukan sesuatu hal tentang Jack, tidak ada catatannya sama
sekali."
Sambil
tersenyum Rose menjawab dengan ringan, "tidak, tidak akan ada di sana! dan
belum pernah aku menceritakan tentang dia sampai sekarang. Tidak kepada
siapapun!"
Dan
diakhir percakapan rose mengatakan "bahkan aku tidak memiliki fotonya dan
sekarang ia hanya ada dalam ingatanku."
Di
sini gw melihat betapa berharganya sebuah kenangan yang mungkin banyak kejadian
yang gak akan pernah bisa terulang kembali, jauh lebih berharga bukan? Ada yang
ingin membantah? silakan :)



Komentar
Posting Komentar