Bidik cerita di DIENG : The Land Above The Cloud (part 2)
Ada adegan dimana gw nyesel bin kesel selama perjalanan dari
Plaza menuju Dieng. Jadi waktu itu, untuk menuju ke Dieng gw and the genk harus naek mikro elf -->
(keren yak
namanya kayak bangsa peri gitu ; elf!) janjinya sih mau berenti kalo ada
sunrise. Tapi mereka melanggar janji! Huhuu... dan gw gak sukses merekam atau
memotret keindahan sunrise selama perjalanan menuju Dieng. (Hellow gimana mau
motret, mobil bergerak dengan cepat sedangkan pencahayaan sangat redup gak
mungkin dong menggunakan shutter lambat atau memaksakan iso tinggi hasilnya pun
pasti buruk!! Padahal, semburat mega kuning kemerah-merahan itu amazing banget! Yakin gw lu bakal
muji-muji Pencipta melihat keindahan itu! Huaaaa....
Sesampai di Dieng kalau tidak salah nyaris jam 5.30 pagi
sebelum matahari mengintip perjalanan gw and the genk, setelah kami turun dari metro
elf hal pertama adalah kami harus solat shubuh dulu, dan di depan mata kami sebuah masjid besar bernama masjid Baiturahman bertengger gagah di hadapan kami. Seperti kata pepatah, sambil menyelam minum air, abis solat mari kita bernarsis ria (gak nyambung :D). Masjidnya bagus sayang untuk dilewatkan!
(Pada foto ini gw menggunakan setingan program (P) jadi cukup mengatur isonya saja. seperti biasa usahakan menggunakan ISO terkecil 100-200 cukup menggunakan tripod dan timer, dapet deh hasil foto seperti ini)
Oh iya, dingin sudah mulai terasa di sini, apalagi airnya,
segeeeer dan dingin buanget top dah bikin gw jadi males mandi.
Matahari mulai mengintip kami. Cahayanya hangat tak peduli
sedingin apapun di sana. Perjalanan kami tempuh beberapa kilo untuk menuju
telaga warna (first our destination), tak ada penginapan, tak ada istirahat,
langsung jalan! Namanya juga backpacker. Hohoho... syukurlah gw gak bawa
barang-barang terlalu berat.
(foto ini gw ambil ketika gw meninggalkan masjid ini. this is became one of my favorit photos . untuk menghasillkan cahaya sebagus ini hanya dapat ketika di pagi hari, ketika matahari terbit dan menyinari seluruh tubuh masjid. oh ya jika ingin menghasilkan cahaya yang lembut biasakan untuk memotret di pagi hari atau di sore hari)
Kami tiba di Telaga warna dan itu indah banget semua
pemandangan di sana memanjakan mata kami hingga bergumam kagum akan Ciptaan-Nya.
Dan semua terekam dalam kamera nikon D90 milik kantor yang sengaja gw bawa
untuk trip kali ini (karena ada tugas liputan juga). Kini, biarkan foto yang
bercerita :D
(bagi gue foto ini bisa mewakili apa yang gue lihat dan apa yang gw rasakan. Foto di sebelah kiri ini sengaja gua masukan elemen dan objek ke dalam foto ini sebagai isyarat pesan : 'Traveling ke Dieng ala backpacker'. Itulah mengapa gw menaruh model di sudut kanan dengan posisi membelakangi kamera dengan menunjukan tas ransel dengan background telaga warna)
(gw memilih foto ini sebagai perwakilan dari foto lanscape gw selama di Telaga Warna. ini foto gw ambil ketika matahari masih belum terlalu terik yah...berkisar jam 08/09 pagi. Pun gw berjaga-jaga untuk mendapatkan pencahayaan yang bagus dengan take beberapa kali foto menggunakan setingan BKT )
Tim Backpacker pun mulai menjelajahi telaga warna, menyapu (ngepel sekalian) setiap bagian dan akhirnya salah satu tim kami ada yang kejeblos lumpur hidup! dan dengan tampang tak berdosanya ketika semua tim panik dia masih aja telpon-telponan seolah tidak terjadi apa-apa. *tepok jidatal-hasil ada kejadian tolong-menolong deh selama di telaga warna. lisfa-lisfa...
Perjalanan kami berlanjut...

Gw and the genk bertemu dengan
Oh ya, foto ini juga butuh usaha buat lari-lari ngejauh dari kamera karena menggunakan timer 10/20 detik.
Perjalanan
setelah sejenak beristirahat, perjalanan berlanjut menujut ke candi-candi kecil dan goa-goa yang bentuknya unik-unik.
![]() |
| cahaya di siang hari memang sudah tidak lembut tetapi untuk foto ini kerasnya cahaya matahari mewakili cerita foto ini bahwa backpacker butuh jasmani yang sehat! |
Dan akhirnya setelah kelelahan kami memutuskan untuk tidur bersama di theater yang sebenarnya berniat untuk menonton. tapi salah mereka juga kenapa harus memasang lagu instrumen pengantar tidur. dan ini --- >oleh-oleh setelah tidur siang di theater.
sebelum kami kembali ke penginapan. Ada foto lanscape, nih, bagi lu yang suka foto awan tapi sering cuma dapet putih doang gak ada salahnya kita share bareng di sini.
Sore hari sesuai agenda kami berangkat menuju candi-candi yang ada di Dieng. Karena Dieng ini terkenal dengan candi-candinya! hujan mengguyur kami, tapi kami selalu siap dengan jas hujan, gak masalah jika lu lupa bawa jas ujan karena di sini jas hujan tipis harganya murah, kok, hanya Rp. 5000, murahkan? dari pada lu beli di jakarta yang harganya bisa lebih dari 10rb dengan bahan yang sama.
| foto dengan konsep Evolusi Darwin |
![]() |
| (oleh-oleh 'kenangan' sebelum pulang ke penginapan) |
Gak kerasa, bener-bener gak kerasa. matahari udah mau pergi ninggalin kami. Dieng benar-benar membuat gw lupa waktu, lupa minum (bener deh udara dingin itu bikin cepet mati hahaa.. abis gw gak ngerasain dahaga. bisa jadi tiba-tiba gw mati mendadak gara-gara gak minum seharian). dan perlahan-lahan matahari sore meninggalkan kami.
Gw selalu berharap ada mobil lewat untuk kami tumpagi, dan harapan gw terkabul! mobil pick-up membawa kami ke penginapan. ini spoiler sebenernya, guys, cerita ini belum seberapa dengan cerita selanjutnya. karena pertualangan sesungguhnya akan kami hadapi esok pagi buta...! kami harus menyiapkan stamina, mental dan doa.
Gunung Pakuwaja TUNGGU KAMII....!!!
(bersambung~)











Di Jakarta, harga jas ujan tipis juga Rp5000 kali, Kek.
BalasHapuseh waktu itu kutanya 10rb lho ... kau beli di jakarta pelosok kali
HapusLah, ini belum selesai.. masih ada lanjutannya??
BalasHapusmasih dong... sabar yak ^^
HapusCepetan woy, dilanjutin. Jangan setengah-setengah...
HapusEnggak ada cerita liputan setelah balik dari Candi yak? :p
BalasHapusRebutan beli syal juga enggak ada nih:p